Guru Besar
Fakultas Kehutanan (Fahutan) Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ir. Sri Wilarso
Budi R, MS berhasil mengembangkan pot organik yang fungsinya bisa menggantikan
polibag dalam persemaian dan pembibitan tanaman. Untuk mendukung perkembangan
unsur hara pada tanah-tanah yang bahan organiknya rendah seperti tanah hutan
yang terdegradasi, maka bahan organik dapat direkayasa menjadi pot organik.
“Kebutuhan
bibit untuk merehabilitasi hutan dan lahan terdegradasi (rusak) dibutuhkan 4-5
milyar batang pohon dalam waktu lima tahun. Artinya membutuhkan polibag sekira
13-16 juta ton, padahal polibag tidak akan terdekomposisi (busuk) dengan cepat,”
ujarnya dalam konferensi pers pra orasi ilmiah di Kampus IPB Dramaga, Bogor
(3/8).
Pot organik
yang dikembangkan Prof. Wilarso ini terbukti mampu meningkatkan pertumbuhan
semai dan dapat menambah unsur hara ke dalam tanah. Keunggulan lainnya adalah
pot organik dapat menjadi pupuk organik, karena kandungan unsur haranya cukup
tinggi dan tidak menimbulkan pencemaran. Selain itu, pot ini praktis dalam
penggunaannya karena dapat langsung ditanam di lapangan tanpa harus membuka
potnya sehingga menghemat waktu dan dapat meningkatkan persentase hidup
tanaman.
“Jika
menggunakan polibag, kita harus membuka polibag-nya. Akibatnya tanaman menjadi
stress. Pot organik itu cepat busuk atau terdekomposisi. Jadi pot organik ini
berpotensi dalam membantu pertumbuhan tanaman pada lahan-lahan marginal dan
terdegradasi,” tandasnya. (Zul)